Anggota Militer, Kopassus Menyamar jadi Pengusaha di Papua, Kini Jadi Bupati

Kami tidak mau sebutkan nama dan tempat di mana saat ini beliau jadi Bupati, tetapi kisah ini disampaikan di Kompas TV. Cerita ini disajikan dengan begitu meriah dan penuh tawa. Tujuan daripada Kompas TV ialah mempromosikan sang Bupati untuk mencalonkan diri sebagai Calon Gubernur DKI Jakarta, mnantang incumbent Basuki Thaja Purnama.

Saya tidak tertarik degnan karirnya saat ini, tetapi pekerjaan beliau selama di Tanah Papua menjadi sangat menarik.

Cerita ini berisi sebuah pengetahuan penting bagi orang Papua, dan bagi masyarakat di seluruh Indonesia, bahwa agen-agen rahasia selama negara ada terus saja hadir di mana-mana, mereka hadir sebagai pegawai negeri, sebagai tukang sapu, sebagai karyawan perusahaan, sebagai supir, sebagai pilot, sebagai pramugari/ pramugara, sebagai tukang ojek, dan sebagai pemilik toko, sebagaimana diceritakan dalam Kopmas TV hari ini pukul 9:00 – 10:00 pagi tanggal 22 Januari 2016.

Cerita ini tidak berisi sesuatu yang sama-sekali baru, tetapi dia mengkonfirmasi dan meyakinkan kita bahwa memang betul, inteligen negara terus beroperasi di mana-mana, di dalam negeri, di luar negeri, terhadpa rakyatnya sendiri, terhadap orang asing, mereka bertugas, mereka menyamar, mereka terus berkarya.

Setelah beliau berpangkat mayor, dia mencalonkan diri menjadi Bupati. Dan saat ini ia berbicara di Kompas TV sebagai seorang Bupati dan isedang disodorkan tawaran oleh presenteer untuk mencalonkan diri menantang Gubernur Ahok, menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Acara di Kopmas TV ini namanya “Plus Minus”.

Beliau juga pernah menjadi pemain sepak bolah di Persiba Balik Papan. Tidak dijelaskannya apakah dia menjadi pemain bola itu masih dalam pekerjaan menyamar sebagai agen rahasia atau tidak. Dari cerita yang disampaikan, setelah menjadi pemain sepak bola masih berlanjut menjadi agen negara. Dari sini saya dapat menduga kuat bahwa menjadi pemain sepak bola juga bisa merupakan tugas negara sebagai agen rahasia negara.

Saya tulis cerita ini dalam rangka mengingatkan kita semua bahwa apapun yang kita lakukan, di manapun kita berada, pekerjaan apapun yang kita tekuni, kita tidak lolos dari surveillance, dari pengawasan. Hidup kita selalu “diintip” oleh negara. Sejak negara dibangun di dunia, negara selalu menjadikan rakyatnya sebagai musuh dan sebagai teman. Yang melawan dianggap musuh, yang tidak melawan dianggap kawan. Tetapi kedua-duanya selalu diintip apa yang dilakukannya. DI dalam negara tidak ada barang pribadi, tidak ada rahasia, hampir semua dimonitor, diintip.

Ahhh, saya mau hidup di hutan dan belantara saja, di sana tidak ada kamera pengintai, tidak intel, karena tidak ada tempat jualan, tidak ada peluang untuk menyamar.

Comments

comments

Add Comment