Cerita Anak Zaman Batu (1) tentang Radio

Cerita anak zaman baru ini saya maksudkan untuk menceritakan pengalaman pribadi saya. Nama saya “Anak Zaman Batu”. Asal saya Wamena, Tanah Papua. Saya dilahirkan dari orang tua yang kedua-duanya lahir di zaman batu. Tanggal dan tahun kelahiran saya juga saya tidak tahu, karena orang tua saya tidak tahu juga. Sekarang saya sudah bisa menulis dan bercerita, berkat pendidikan hasil proses modernisasi di Tanah Papua.

Cerita pertama dari saya, Anak Zaman Batu ini berbicara tentang interaksi saya dengan radio.

Pada usia saya masih sekitar 5 tahun, saya pernah dibawakan oleh orang tua saya satu buah lampu senter dan satu buah radio transistor, atau umumnya kami sebut radio.

Selain radio, saya masih ingat rekamana piringan hitam, yang diputar dengan tangan, dan sepanjang diputar dengan tangan, maka suara akan keluar.

Dua alat, di mana daipadanya saya mendengarkan suara, tetapi yang satunya kita harus memutar dengan tangan baru berbunyi, sedangkan yang satunya tidak. Yang satu yang diputar dengan tangan berbicara dalam bahasa Lani, Papua, sedangkan yang tidak diputar dengan tangan menggunakan bahasa yang saat ini saya sedang gunakan menulis cerita ini, “Bahasa Melayu versi Indonesia” atau Bahasa Indonesia.

Dua mesin, dua cara mengoperasikan, dua bahasa yang berbeda, dan isi pesan yang disampaikan yang satunya pesan yang sama setiap kali diputar dan yang lainnya berubah-ubah.

Waktu ayah saya memutar piringan hitam atau radio, saya sebenarnya punya rasa takut yang cukup mendalam. Saya takut karena memegang barang yang sedang “ngomong” sama saja dengan memagang mulut orang.

Saya sering berdiskusi dengan teman saya tentang barang yang berbunyi itu. Kami sering diberitahu oleh orang yang lebih dewasa, bahwa di dalam mesin yang ditangan ayah saya itu terdapat setumpuk potongan kepala, dari orang-orang yang dipotong kepalanya oleh “Mbir Omok”, yang dalam bahasa Lani artinya “Cepat ke sini”< yaitu nama dari kata “Brimob”.

Saya diberitahu oleh orang tua itu bahwa Brimob itu kerjanya tangkap orang, terutama anak kecil mereka tangkap, dipoting lehernya, lalu kepala mereka sering dibawa ke proyek-proyek pembangunan jembatan, supaya biar jembatannya awet. Kalau jembatan tanpa kepala orang maka jembatan itu mudah roboh.

Saya pun tidka pernah lihat jembatan jenis mana yang dimaksud. Saya tidak pernah lihat jembatan dimaksud, karena waktu itu jembatan-jembatan di kampung saya dibangun oleh masyarakat setempat, kebanyakan dengan tali-temali saja, yagn sering mendayiung ke atas dan ke bawah saat kita menyeberanginya.

Kata orang tua tadi, kepala-kepala ini ditempatkan di dalam besi tua, lalu mereka disuruh “ngomong”, dan setiap saat ada yang berpesta, ada yang menyanyi, ada yang berteriak, ada yang menyampaikan pesan-pesan. Berita radio, lagu-lagu di radio, dan acara lain di radio dengan baik diinformasikan kepada kami, bahwa itu semua dilakukan oleh para “Kepala” yang telah dipotong Brimob dan dimasukkan ke dalam kaleng “bicara” ini.

Anda bisa bayangkan apa kesan saya selanjutnya saat meilihat (1) radio dan saat melihat (2) Brimob. Sampai hari ini, saya tettap saja takut kepada Brimob, walaupun akal sehat saya memberitahu saya bahwa pekerjaan Brimob bukan seperti cerita tadi.

  • [Cerita berikut saya akan sampaikan tentang Televisi dan Radio Tape]
  • Apakah Anda punya cerita mirip? Mari berbagi: info@kisah.us

Comments

comments

Add Comment