Kisah Ahok sama Kisah Yesus Kok Hampir Sama ya?

Kisah Ahok dan kisah Yesus dalam Injil Orang Kristen hampir sama, paling tidak begitulah  dalam kacamata awam

Ahok, BBasuki Tjahaja Purnama
Ahok, BBasuki Tjahaja Purnama

Ada tiga kemiripan.pertama dan terutama dari sisi olokan-olokan yang Yesus terima dan yang diterima Ahok, yang dilatarbelakangi oleh mayoritas-minoritas persis sama. Pada zaman itu, mayoritas adalah penganut agama Yahudi, dikepalai oleh orang-orang pemuka agama yang dalam Alkitab disebut Saduki dan Farisi.

Secara jujur, sebenarnya mengkafirkan penganut agama lain lebih parah dalam kacamata hukum positif daripada apa yang dikatakan Ahok. Apalagi pengkafiran sesama warga negara Indonesia itu berlangsung secara terus-menerus,berulang-ulang, di tempat terbuka, di TV dan tempat-tempat umum. Akan tetapi umat yang dikafirkan tidak pernah melaporkan hali itu sebagai penistaan agama kepada kepolisian Indonesia, karena mereka tahu paling-paling dicatat dan dibiarkan. Saya kira kaum minoritas sadar juga, bahwa walaupun mereka dikafirkan,mereka tidak dapat berbuat apa-apa selain berpura-pura tidak pernah mendengarnya, padahal sebenarnya dengan itu secara tak sudi dan tak rela mereka menerima pengkafiran dimaksud

Kemiripan yang kedua, tidak kalah pentingnya dari itu, sebagai pemicunya, para ahli Taurat dan Orang Farisi waktu itu merasa pihak yang bernar dan Yesus sudah salah besar, berdosa terhadap Tuhan Allah, karena Dia mengaku diri Mesias, meruntuhkan apa yang diyakini dan diajarkan orang Yahudi waktu itu. Karena mayoritas merasa benar maka memaksakan kehendaknya harus dieksekusi merupakan siatuasi yang jelas dalam sejarah hidup Yesus. Dan karena itu banyak hal mereka lakukan dan katakan untuk menjerat Dia, menghukum Dia, dan akhirnya dengan Udang-Undang Penistaan Agama-lah Yesus disalibkan di Golgota, atau bukit tengkorak.

Yang ketiga, pemerintah Romawi memilih untuk mencuci-tangan, atas nama apa saya tidak mengerti, teolog yang bisa menjawab. Negara waktu itu tidak ambil pusing, malahan bertanya-tanya kepada Yesus sendiri, “Mengapa kau tidak balas atau membela diri atas tuduhan-tuduhan ini?” AKhirnya Pontius Pilatus “cuci tangan” dari kasus penghakiman dan penghukuman Yesus. Dia menyerahkan kepada tokoh Agama dan Ahli Taurat untuk menyelesaikan sesuai kemauan mereka, yaitu “Salibkan Dia!”

Tetapi kedua kisah ini juga punya perbedaan. Perbedaan yang pertama, kisah Yesus terjadi di zaman dulu, karena Dia mengaku Raja orang Yahudi, yang ditunggu-tunggu orang Yahudi, sementara orang Yahudi merasa Mesias yang ditunggu-tunggu bukan datang dalam kondisi seperti yang ditampilkan Yesus waktu itu. Sedangkan Ahok hadir di era modern, dalam konteks sebagai Gubernur Provinsi DKI Jakarta, di negara Indonenesia.

Perbedaan yang kedua ialah apa yang dikatakan Yesus dengan apa yang dikatakan Ahok pada saat dihakimi oleh kaum mayoritas penganut Agama Yahudi. Yesus waktu itu tidak pernah berkata apa-apapun, malahan Dia katakan, “Seperti yang engkau katakan”. Jadi, tidak ada keterangan, apalagi minta maaf. Ahok mendahului semuanya, dia minta maaf atas apa yang dikatakannya.

Saya mau sampaikan terus-terang, bahwa ulasan ini terlepas dari apa yang dikatakan Ahok, dan cara-cara Ahok nerbicara dan konservatisme Ahok, yang dia munculkan tidak terkait dengan Kristen atau China, tetapi terkait dengan pribadinya sebagai seorang individu Ahok, yang tidak mau pernah rela belajar dari kesalahannya, apalagi menerima kritik dari sesamanya, apalagi dari rakyatnya. Ini persoalan pribadi, tidak sama dengan Yesus yang datang untuk kepenitngan umat manusia dan dihakimi.

Jadi, orang Kristen menganggap Ahok sebagai martir, seperti yang saya baca di salah satu majalan Kristen juga salah kaprah. Sama halnya, kaum mayoritas di Indonesia yang melihat Ahok mewakili agama Kristen juga lebih salah lagi, karena dari ajaran Kristen yang saya tahu, hukum pertama dan utama yang diajarkan Yesus ialah “Kasihilah Tuhan Alah-mu dengan segenap hatimu dan sepenuh jiwamu, dan kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri”, atau dalam doktrin Kristen disebut “Hukum Kasih”.

Tulisan ini juga tidak bermaksud membenarkan agama atau pribadi, cuman kisahnya mirip, karena itu menarik untuk kita simak. Cuma hasil analisis ini saya tulis sebelum “penyaliban” Ahok.

Comments

comments

Add Comment