Kisah Kakek Nasrul yang bertahan hidup dengan memotret

Reporter : Annisa Nurul Mauliddiyah | Minggu, 23 Oktober 2016 02:03

Merdeka.com – Beberapa tahun lalu, Nasrul sempat meramaikan dunia maya. Kakek yang kini berusia 76 tahun itu sempat menjadi sorotan media karena perjuangannya bertahan hidup di Ibu kota hanya dengan modal kamera.

Trotoar Jalan Prof Dr Satrio yang terletak di kawasan Setiabudi, Kuningan, telah menjadi saksi perjuangannya sejak hampir tiga tahun yang lalu. Di trotoar itu, dia menawarkan jasa pemotretannya kepada orang-orang yang lewat di hadapannya.

Kini, dia masih di sana. Kamera berjenis SLR masih bergantung di lehernya. Kerutan di wajahnya pun masih sama, menampilkan lelahnya perjuangan bertahan hidup di Jakarta.

“Bu, mau foto?” tawarnya pada seorang wanita yang lewat di hadapannya.

Dia masih berdiri di lokasi yang sama, di bawah pohon, dengan tas hitam lusuh dan topi di kepalanya. Di sana, dia ditemani oleh beberapa pedagang kaki lima yang juga mangkal di sana. Pada hari ini, dia bersyukur telah mendapat sebanyak tiga pesanan foto.

“Sudah tiga foto sampai ini sore,” katanya saat ditemui di lokasi tempatnya mangkal, tepat di depan OCBC NISP Tower, Jakarta Selatan, Sabtu (22/10).

Di zaman yang sudah serba canggih ini, laki-laki tua asal Padang itu sebenarnya sadar akan kesulitan dari pekerjaannya sebagai tukang foto jalanan. Saat setiap orang sudah bisa memotret dirinya sendiri dengan kamera yang lebih canggih, Nasrul masih berusaha menawarkan jasa memotret.

Selain itu, pelanggannya harus menunggu selama 3-7 hari untuk mendapat cetakan fotonya. Setelah beberapa hari tersebut, pelanggannya pun diminta untuk datang lagi untuk mengambil hasil cetakannya di tempat biasa dia mangkal.

“Tapi suka nggak diambil,” ujarnya.

Dia mengatakan, jarang sekali ada pelanggannya yang datang lagi untuk menagih fotonya yang telah dicetak. Bahkan hampir tidak ada. Padahal, dulu dia selalu membawa hasil cetakan fotonya yang hingga saat ini sudah mencapai ribuan.

“Sekarang saya tinggal. Numpuk di rumah,” tuturnya dengan suara pelan.

Rumahnya sendiri, kata dia, berlokasi di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan. Kakek yang tidak lagi bertubuh tegap ini selalu berangkat dari rumah sekitar pukul 11.00 WIB dengan menggunakan bus Kopaja.

“Trus pulang kadang bisa sampai jam 8 (malam),” imbuhnya. Saat pulang pun dia menaiki bus yang sama.

Saat ditanya mengenai kehidupan pribadinya, dia menolak untuk terbuka. Dia hanya mengatakan kalau dia tidak memiliki anak dan hidup sebatangkara.

Meskipun begitu, dia menolak untuk menyerah. Di umurnya yang sudah renta, dia akan terus berusaha bertahan hidup dengan memanfaatkan apa saja yang dia punya, termasuk kameranya.

[hhw]

Comments

comments

Add Comment