Kisah Mata-Mata Polisi yang Susah Dekati Dimas Kanjeng Karena Dikawal Eks Tentara

JawaPos.com – Penangkapan Dimas Kanjeng Taat Pribadi pada 22 September lalu adalah buah penantian panjang. Polda Jatim membutuhkan waktu tiga bulan sampai akhirnya berhasil menyergap Dimas Kanjeng di padepokan yang dijaga banyak pengawal itu.

Dimas Kanjeng menjadi target operasi sejak lama terkait dengan kasus pembunuhan Abdul Gani. Sejumlah bukti kuat dikantongi. Polisi yakin Dimas Kanjeng adalah otak pembunuhan Gani yang juga pengikutnya sendiri Beberapa kaki tangan Dimas Kanjeng sudah ditangkap.

Namun, penangkapan Dimas Kanjeng tidak bisa langsung dilakukan. Dia jarang muncul di tempat umum di luar padepokan.

Bahkan, ketika Polres Probolinggo mengundangnya, yang datang hanya perwakilan. Di sisi lain, kondisi padepokan yang sangat tertutup dan dijaga ketat pengawal pribadi menyulitkan polisi untuk melaku­kan penangkapan secara langsung.

Apalagi, sebagian besar pengawal Dimas Kanjeng adalah mantan tentara.

Satu-satunya cara untuk bisa memastikan keberadaan Dimas Kanjeng ialah mengirim utusan khusus. Polda Jatim menugasi sejumlah polisi yang relatif muda untuk menjadi pengikut di padepokan tersebut. Mereka datang ke Desa Wangkal, Kec Gading, Kab Probolinggo, dan bersikap seperti pengikut Dimas Kanjeng. Mereka juga tinggal di lingkungan padepokan.

Dari sanalah polisi bisa melihat kondisi di dalam padepokan dari jarak dekat. Hanya, mata-mata tersebut kesulitan untuk mendekati Dimas Kanjeng. Sebab, di dalam padepokan berlaku kawasan terbatas yang hanya bisa diakses kalangan tertentu.

Polisi yang ditugasi menyamar sebagai pengikut bukan sembarangan. Mereka dibekali peralatan khusus yang digunakan untuk merekam aktivitas padepokan. Setiap hari mereka melaporkan perkembangan.

Petugas tersebut juga dibekali senjata api. Hal itu bertujuan untuk mengantisipasi kemungkinan menghadapi pengawal Dimas Kanjeng yang terlatih.

Ketika Dimas Kanjeng dipastikan berada di dalam padepokan, polisi langsung mempersiapkan seribu pasukan untuk melakukan penyergapan. Kapolda Jatim Irjen Anton Setiadji mengumpulkan pimpinan tentara di Jatim. Sebab, di antara pengawal pribadi Dimas Kanjeng, ada yang berstatus tentara aktif. Setelah persiapan matang, barulah penyerbuan dilakukan. (eko/ca)

Comments

comments

Add Comment