Yang Tidak ada di Bali Spirit Festival: Orang Bali Sendiri

Memang hal yang mengejutkan, di manapun, secara logis orang akan menyangka masyarakat di sekitar sebuah acara akan menjadi pengunjung utama, atau paling tidak menjadi bagian dari kegiatan yang sedang berlangsung di tempat mereka.

Dalam salah brosur yang tersebar secara online ataupun offline tertulis

Join us at one of the world’s most inspiring celebrations of global community, world music and well-being, taking place on the idyllic islands of Bali.(Bergabunglah ke salah satu perayaan paling menginspirasi di dunia dari masyarakat global, musik dunia, well-being berlangsung di pulau dewata Bali)

The six-day, seven-night festival, with over 7,000 attendees from over 50 countries, offers a concentrated schedule of events, workshops, concerts, seminars and children’s activities, all taking place at two amazing venues that embody the spirit of Bali.

Global Community yang dimaksudkan ternyata “tidak ada”, yang terjadi adalah polisi Indonesia dan masyarakat adat Bali menyediakan semua fasilitas, dari fasilitas keamanan, perlengkapan, bantuan teknis dalam acara dan fasilitas parkiran dan saya tidak temukan satupun orang Bali sebagai peserta. Memang ada peserta, tetapi bukan peserta penuh, mereka hanya kebetulan lewat di tempat satu kegiatan, lalu mereka sering menonton dan kalau ada kegiatan dansa atau goyang, mereka sering melibatkan diri. Itupun hanya sekedar mencoba-coba, sambil tertawa, entah karena lucu atau karena tidak serius.

Ternyata mereka hadir sebagai performers, bukan sebagai peserta. Paling tidak dari gambar yang saya tampilkan ini menunjukkan mereka ada terlibat. Walaupun saya harus akui, secara pribadi saya tidak melihat satu-pun orang Bali terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan. saya juga harus akui bahwa saya sendiri tidak hadir dalam semua acara, jadi pasti mereka datang, cuman saya yang tidak melihat mereka.

Balinese Children at Bali Spirit Festival
Balinese Children at Bali Spirit Festival

Saya sempat bertanya kepada teman-teman dari barat, atau sering kita sebut Bule, hampir semua yang saya tanyakan menjawab, “Festival ini terlalu mahal untuk mereka”. Memang betul juga, kalau saya tidak dibayarkan oleh teman saya, pasti seratus persen saya tidak akan rela membayar begitu mahal hanya  untuk menghadiri satu dua acara setiap harinya. Kalaupun saya datang setiap jam, saya-pun tidak akan mampu menghadiri semua kegiatan pada saat yang sama, di berbagai tempat penyelenggaraan festival ini.

Dalam jadwal pun saya check apakah ada performaces dari orang Bali sendiri, dan jadwal tidak memberikan saya informasi tentang itu. Orientasi mereka bukan menampilakn budaya Bali, tentu saja mereka benar. Tetapi protes saya juga logis, “Mengapa ini acara berlangsung di tanah leluhur orang Bali, kok apa-apa yang ada di Bali tidak diberi peluang untuk ditampilkan?”

Saya sempat berpikir, apakah tarian-tarian Bali tidak cukup “Yoga”-tis? Dan jawaban saya mudah saja, justru hampir semua tarian Bali mengandung gerakan-gerakan Yoga. Saya sendiri menyaksikan kegiatan pegnusiran setan pada hari Nyepi di sekaligus sebagai kegiatan minum air sambil menyelami Bali Spirit Festival.

Di malam hari sebelum nyepi ada tradisi “Ogoh-Ogoh””

Ogoh ogoh ondel-ondel orang jakarte bilang) bagi orang Bali dimaknai sebagai simbol dari Bhuta kala atau perwujudan sifat raksasa atau kebatilan. Di Bali ogoh-ogoh biasanya dibuat menjelang hari raya Nyepi (Tahun barunya Orang Bali ) yang jatuh setiap 1 tahun sekali antara bulan Maret atau April. Nantinya, ogoh-ogoh akan diarak keliling desa sehari menjelang hari raya Nyepi itu sendiri. Ogoh-ogoh ini biasanya dibuat mengambil tokoh-tokoh yang memiliki wajah seram, bertaring, dsb. Biasanya dibuat dalam ukuran yang sangat besar sesuai dengan kreatifitas penduduk di desa itu.

<http://www.kompasiana.com/>

Setelah melacak lebih jauh, saya ketahui bahwa pendiri dari Bali Spirit Festival itu sendiri adalah orang Bali. Dan setiap tahun diselenggarakan di Bali, ditopang oleh pemerintah Indonesia, oleh Menteri Pariwisata di Jakarta.

Akhirnya saya berpendapat, acara ini memang secara ekslusif diselenggarakan untuk para Bule, dan tujuan utama pemerintah mendukung ini ialah memajukan pariwisata Bali,. serta tujuan pendiriannya sendiri juga ialah untuk pengumpulan dana demi kepentingan-kepentingan sosial kemasyarakatan, bukan untuk “spirit itu sendiri”, bukan juga untuk mengundang orang Bali memberikan apa yang mereka miliki karena nantinya pemasukan buat negara dan pelaku bisnis di Bali tidak akan begitu banyak kalau banyak orang lokal terlibat.

Comments

comments

Add Comment