Bali Spirit Festival 2017 – Apa Pandangan Masyarakat Bali Sendiri?

Kegiatan Yoga di Bali Spirit Festival 2017
Kegiatan Yoga di Bali Spirit Festival 2017

Bali Spirit Festival, khususnya untuk tahun 2017 yang saya hadiri untuk pertama kali, sementara festival ini sudah berlangsung untuk tahun ke-10, menjadi menjadi buat saya karena berbagai aspek, pertama dari aspek pandangan saya sendiri, kedua dari pandangan teman-teman saya terhadap nama “Balim Spirit Festival”, dan kesan saya sebelum dan sesudah datang ke festival ini sendiri. Seperti sudah saya tulis dalam kisah sebelumnya, sebenarnya teman saya dan saya sendiri selama dua tahun sudah skeptis dengan apa yang kita dapat peroleh dari sebuah festival “spirit” yang diselenggarakan oleh orang “bule” (orangnd putih dari dunia barat, dari peradabam modern, yang konon sudah berkontribusi besar dalam membasmikan segala-sesuatu terkait dengan hal-hal “rohani” atau “roh).

Saya juga sudah sampaikan dalam kisah sebelumnya bahwa ternyata nama “Spirit Festival” tidak-lah salah, dan bahkan sangat tepat, karena dari pengalaman sendiri menunjukkan betapa “spirit” itu ada dan beroperasi selama festival ini berlangsung.tu

AKAN TETAPI, apa sebenarnya pandangan orang Bali terhadap festival ini?

Saya sudah sempat tanyakan kepada beberapa orang yang sedang mengatur parkiran mobil. Saya juga sudah tanyakan kepada petugas yang membantu dalam penyelenggaraan festival ini, di dalam pagar, atau di dalam kelas-kelas workshop yang sedang berlangsung. Setelah festival bereakhir pun saya sempat bertemu beberapa orang Bali lain dan mengecek pandangan mereka terhadap Bali Spirit Festival ini.

Herannya, jawaban mereka semua sama saja, “Ah, itu bukan untuk kita, itu khusus untuk orang Bule”.

Alasannya apa? Ada yang sayat tanyakan, ada yang saya tidak tanyakan, tetapi sudah bisa pahami mengapa jawaban umum ini disampaikan. Alasan pertama, dan yang paling jelas ialah bahwa festival ini sangat mahal buat orang lokal.

Untuk sekedar jalan-jalan ke dalam saja harus bayar Rp.50.000,- (Terbilang: Limapuluh Ribu Rupiah), sedangkan untuk terlibat dalam satu saja kegiatan dari berbagai lokakarya yang sedang berlangsung harus bayar Rp.150.000,- (Terbilang: Seratus Limapuluh Ribu Rupiah). Lain lagi kalau mau terlibat dalam semua kegiatan, walaupun waktu terbatas, pembayarannya Rp.1 juta lebih. Saya dengan teman saya selalu bayar Rp. 3 juta lebih setiap hari.

Bayangkan berapa gaji orang-orang lokal sehingga bisa sanggup bayar hanya untuk sehari seperti ini>

Dari pengecekan saya, ini alasan yang paling masuk akal, dan alasan pertama.Tetapi tidak sampai di situ. Ada juga alasan lain, yaitu karena orang lokal menganggap acara ini hanya dipaketkan khusus untuk orang “bule”, orang barat, orang dari luar negeri. Kalau alasan ini benar, mengapa saya bisa ikut? Saya tidak menggunakan paspor untuk datang ke Bali, cukup dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP) saja saya sudah bisa  masuk.

Kemungkinan alasan yang lebih dalam artinya barangkali orang Bali sendiri akan bliang bahwa kegiatan-kegiatan Yoga dan Breathwork cocok untuk kondisi kehidupan mental-rohani orang-orang Bule. Dengan kata lain, ini menu makanan rohani yang pas dan harus disantap oleh orang Bule, kalau masyarakat Bali sendiri tidak perlu itu, karena orang Bali sudah makan-minum makanan rohani seperti ini sejak dikandung.

Memang saya harus akui, ada sejumlah teori, rasionalisasi dan praktek yang tidak cocok diterapkan bagi masyarakat Indonesia. Misalnya yang paling jelas, praktek tBreathwork yang menekankan “menatap seseorang” atau “menatap siapa saja” dalam waktu beberapa menit lamanya, dan tatapan yang dilakukan ialah melihat ke dalam mata orang lain. Praktek kedua ialah memeluk dengan membuka dada secara terbuka lebar. Apakah ini praktek yang dianggap wajar dalam masyarakat pribumi di Bali? Tentu saja tidak! Apakah wajar di Tanah Papua? Juga sama sekali tidak. Bahkan bisa berakhir masalah.

Alasan daripada penyelenggaraan festival seperti ini juga tidak sama. Para orang Bule mempunyai masalah terkait mental, rohani dan psikologis yang berbeda daripada yang dimiliki orang non-Barat. Jadi walaupun kegiatan-kegiatan yoga dan musik seperti di festival ini mereka anggap sebagai obat untuk mental-rohani mereka, saya pikir tidak akan sama kalau diikuti oleh orang lokal dari Bali atau dari Tanah Papua.

Comments

comments

Add Comment