“Halo hormat, Lagi Ngapain? Posisi di?” adalah Tanda Pertanyaan Orang Tidak Pintar

“”Halo hormat, Lagi Ngapain? Posisi di?” adalah Tanda Pertanyaan Orang Tidak Pintar”

Ini kalimat yang saya mau promosikan di seluruh dunia, memberitahukan kepada kita semua bahwa dengan media sosial dan telepon seluler diserta aplikasi yang menyertainya begitu marah, kita manusia menjadi tidak jelas dan tidak pintar dalam berkomunikasi.

Di masa lalu, dunia yang penuh dengan komunikasi tatap muka, kita diajarkan untuk menyusun kata dan kalimat secara baik, berpikir 100 kali sebelum mengatakan satu kata saja. Tetapi zaman teknologi canggih, yang ditandai dengan teknologi komunikasi yang semakin canggih, otak manusia menjadi tidak berfungsi banyak, apalagi tatakerama dan tutur kata. Apalagi kita disuguhkan mengekspresikan kita sukai, kita banggakan, kita tolak, kita marah, kita berterimakasih hanya dengan simbil dan tanda yang terkoleksi dalam aplikasi, akhirnya cara kita berkomunikasi menjadi tidak disertai dengan ‘kemanusiaan’ lagi.

Di tengah-tengah itu, cara kita berkomunikasi menjadi tidak sopan, dan tidak logis. Sering sekali dalam status FB ataupun twitter dan media sosial lainnya terbaca seperti tertera dalam judul ini.

Secara tradisional, ornag Papua akan menanggapi pertanyaan ini dengan mengatakan, “Tanya-tanya intel ka?” atau “datang mau bunuh ka?” atau “mau tahu untuk?”

Krena kepentingan mengetahui apa yang saya lakukan dan saya ada di mana tidak begitu penting bagi siapa saja yang ada jauh dari saya. Tetapi itu menjadi pertanyaan yang sering diajukan dalam berkomunikasi menggunakan Media Sosial. Padahal yang mengajukan pertanyaan ini tidak tahu paling tidak tiga hal. Pertama, bahwa pertanyaan ini menunjukkan dirinya tidak punya pekerjaan, dan tidak tahu apa yang harus dia tanyakan.

Lebih lanjut, mengetahui saya ada buat apa dan saya ada di mana tidak akan memberikan manfaat buat saya ataupun dia yang bertanya. Misalnya, yang bertanya kepada saya tahu persis saya ada di Puncak Jaya, sementara dia yang bertanya tahu dirinya ada di Bandung. Tetapi dia mengajukan pertanyaan yang tidak ada hubungannya dengan realitas yang diketahuinya sendiri. Apa yang dia mau ketahui tentang apa yang saya lakukan? Apa manfaatnya dia mengetahui saya ada di posisi mana?

Saya harus nyatakan bahwa pertanyaan ini dibuat oleh orang-orang yang tidak tahu bertanya, dan oleh orang-orang yang tidak pintar. Bukan otaknya yang tidak pintar, tetapi pemahamannya tentang dirinya ada di mana dan saya ada di mana itu yang tidak pintar.

Semoga bermanfaat.

Comments

comments

Add Comment