Wakil Bupati Jayapura, Roberth Djoenso: Jadilah Pengusaha Sejati, Jangan Setengah-Setengah

Wakli Bupati Jayapura Roberth Djonsoe dengan Ketua KSU Baliem Arabica, Selion Karoba
Wakli Bupati Jayapura Roberth Djonsoe dengan Ketua KSU Baliem Arabica, Selion Karoba

Wakil Bupati Jayapura, Roberth Djoenso selama hidupnya, secara khusus selama menjadi Wakil Bupati Kabupaten Jayapura memberikan dukungan secara moril dan material kepada KSU Baliem Arabica. Kami Jaringan KSU Baliem Arabica sangat kehilangan beliau. Pejabat OAP yang ada di Jayapura maupun di Provinsi Papua (kecuali waktu itu Gubernur Barnabas Suebu) punya visi dan langkah yang jelas, mulai dari aturan-aturan yang mereka produksi (Perdasi/ Perdasus) dan tindakan yang mereka lakukan di lapangan begitu jelas.

Suatu hari, di Gudang Produksi Baliem Blue Coffee (BBCoffee) kampung harapan Sentani, datanglah Kapolres Jayapura dan Wakil Bupati  Roberth Djoenso. Waktu itu beberapa hari menjelang Festival Danau Sentani (FDS). Pak Kapolres tentu saja datang dengan pangawalnya, dan begitu juga dengan Pak Wakil Bupati.

Sambil duduk minum kopi di Gudang BBCoffee, Roberth Djoenso  menceritakan ciri-ciri orang Gunung (Koteka) dan cara beliau membangun komunikasi dengan masyarakat koteka. Kebetulan waktu itu, semua karyawan di Gudang BBCoffee ber-rambut Rasta (gondrong), jadi beliau langsung katakan kepada kapolres

Tidak usah ragu-ragu. Mereka ini bukan anggota OPM. Ini ciri khas orang gunung. Mereka dari dulu memang begini. Mereka terus-menerus kita bina agar mereka berubah. Tetapi rambut seperti ini bukan berarti pendukung OPM. Di mana-mana di kampung di gunung sana banyak yang rambut gondrong, dan itu biasa-biasa saja.

Di lanjutkan bicara kepada para karyawan gudang, “Sekarang kamu kekurangan apa?“, lalu para karyawan menjawab, “untuk FDS ini, kami perlu kantong untuk isi kopi waktu orang beli kami mau isi baru kasih“. Jawab beliau, kasih gambar, besok diproses, lusa diantar kesini. Beliau lanjutkan

Kalian ini anak-anak gunung. Saya tahu kalian pekerja-keras. Kalian kalau mau jadi pengusaha, jangan main setengah-setengah, jadilah pengusaha penuh, jadi kaya, bangun keluarga dna kampung. Jangan minta-minta uang ke pemerintah trus untuk bangun keluarga dan kampung kalian. Tanah air kalian ini kaya-raya, kalian harus bangkit dan bangun diri sendiri dan bangun kampung sendiri. Jangan harap orang lain datang bangun.

Kalau punya telepon, jangan pakai telepon bicara-bicara papua merdeka, komunikasi dengan OPM, KNPB, dan macam-macam yang merusak masa depan kalian.Kalian ini sebenarnya punya masa depan cerah, bisa jadi kayaraya di tanah leluhur sendiri Tetapi kalian kerjanya apa? Pura-pura berbisnis tapi bicara papua merdeka, pura-pura jadi pejabat tetapi komunikasi dengan OPM jalan terus, semua main setengah-setengah. Hasilnya apa? NOL Besarrrrrrr!

Sambil mengucapkan NOL Besar beliau menunjukkan jari telunjuk dan ibu jari membentuk NOL.

Tentu saja kami sebagai anak-anak Koteka, orang gunung, dan kami sebagai orang Papua, ditambah lagi beliau sebagai mantan perwira polisi, dan ditambah lagi bersama beliau adalah Kapolres Jayapura, lengkap dengan para pengawal mereka, memang sudah menciptakan rasa takut di hati kami. Ditambah lagi, pesan-pesan seperti ini pada waktu itu sangat menekan perasaan kami.

Akan tetapi, setelah beliau meninggalkan kami, kami pun melakukan diskusi panjang-lebar, dan kami simpulkan beberapa hal sebagai berikut

  1. Bapak Wakli Bupati Jayapura Roberth Djonsoe ialah seorang amberi yang benar-benar berhati Papua, dan pantas dipercayakan sebagai pejabat di Tanah Papua;
  2. Bapak Roberth Djonsoe dengan tulus dari hati terdalam, mencintani orang Papua, dan punya cita-cita sendiri untuk memajukan Orang Asli Papua (OAP) menjadi tuan di atas tanah leluhur sendiri.
  3. Bapak Roberth Djonsoe tidak sekedar bicara, tetapi berbuat banyak untuk orang Papua, dan juga untuk KSU Baliem Arabica

Kami bandingkan dengan para pejabat OAP, mulai dari Gubernur Papua, Kapolda Papua, Ketua DPRP, yang semuanya berlabel OAP, semuanya berlabel “Orang Koteka” anak gunung, sampai tanggal 30 Agustus 2017 ini tidak pernah menunjukkan sikap, tindakan, dukungan, doa, apalagi tidak pernah memberikan nasehat dan dorongan apa-apa.

Terus-terang, KSU Baliem Arabica bukan entrepreneur berusia bayi, kami telah menjadi remaja, sudah bisa mencari makan sendiri, sudah bisa berjalan sendiri. Yang membuat kita bertanya ialah mengapa para pejabat OAP tidak memperhatikan entrepreneur Papua yang sudah membuktikan diri mengekspor produknya ke Amerika Serikat dan Eropa?

  • Apa penyebabnya?
  • Benarkan Papua Bangkit! untuk Mandiri dan Sejahtera diperuntukkan bagi OAP, ataukah hanya sebagai bunga-bunga politik dalam rangka memenangkan suara untuk menjabat di Tanah leluhur bangsa Papua?
  • Sejarah akan menjawab. Paling tidak riwayat sampai hari ini menyatakan program Papua Bangkit! masih melayang-layang di udara, tidak tahu kapan mendarat, tidak tahu di mana akan mendarat.

Kalau saja Bapak Roberth Djonsoe masih hidup hari ini, riwayat Gudang Produksi Baliem Blue Coffee tidak sama dengan kondisi yang ada saat ini.

Apalagi, Gubernur Lukas Enembe telah mengancam akan membongkar Gudang BBCoffee atas nama pembangunan Arena PON XX. Kami tunggu, walaupun kami tidak berharap, apakah Gudang BBCoffee akan dibongkar begitu saja? Kalau Bapak Roberth Djonsoe masih hidup, pasti, kami yakin, saat ini kami sudah dipindahkan ke lokasi yang lebih aman, lokasi permanen, di Kabupaten Jayapura.

Kami berdoa dalam nama Yesus kepada Tuhan Bapa di Surga, dengarkanlah doa kami, kiranya Gubernur Provinsi Papua diberikan Roh dan Hati untuk membela enterpreneur OAP, kami KSU Baliem Arabica telah hadir di era Gubernur Barnabas Suebu, dan sejak terpilihnya Gubernur Lukas Enembe, kami dibiarkan harus berjuang sendiri. Kami tahu, setiap pergantian gubernur terjadi di mana-mana di Indonesia, selalu terjadi pematian dan pembiaran kegiatan-kegiatan pejabat lama, biarpun itu baik, biarpun itu bermanfaat untuk rakyat. Mereka selalu tidak perduli, karena mereka memperhatikan kepentingan jabatan mereka, bukan kepentingan rakyat yang mereka kleim mereka wakili.

Tuhan, kami berdoa, kiranya Alm. Bapak Roberth Djonsoe mendengarkan doa kami ini, dan membantu kami dalam usaha-usaha kami di alam fana ini. Kalau tidak, kami pasti akan ditendang keluar dari arena PON XX, dan KSU Baliem Arabica akan menjadi sejarah dalam entrepreneurship OAP di atas tanah leluhur kami.

Comments

comments

Add Comment