Jokowi Genjot Infrastruktur Papua? Itu Pantas Karena Jakarta Sudah Ambil Lebih Banyak dari Itu

Percaya apa tidak percaya tetapi juga bersyukur kepada Tuhan, ada seorang Indonesia bernama Harun Al Rasyid (maaf saya tidak tahu ejaan persisnya, karena di bacakan di TV), dan saya tidak nonton di layar tetapi saya dengar sementara saya ada di laptop saya.

Di Metro TV menghadirkan Mr. Semuel Tabuni dan Pak Harun Al Rasyid, mempertanyakan Kinerja Jokowi dan apa yang telah dilakukannya selama ini untuk seluruh Indonesia.

Khususnya untuk Tanah Papua, Semuel Tabuni minta Jokowi tidak hanya memperhatikan pembangunan infra-struktur tetapi juga memperhatikan pembangunan manusia Papua, kalau tidak akan terjadi ketimpangan.

Harun Al Rasyid pun di tanyakan pendapatnya tentang dana yang begitu besar dihabiskan untuk Tanah Papua, dia secara sederhana memulia jawabannya dan katakan,

“YA SUDAH BANYAK kita bawa keluar dari Tanah Papua, jadi Jakarta harus bayar kembali. Itu kan pantas, untuk menutup banyak yang sudah dibawa keluar dari sana”.

Maaf, kalimat ini tidak persis, tetapi seperti itulah maksud beliau.

Apakah masyarakat Indonesia lain pernah berpikir bahwa apa yang dibawa keluar dari Tanah Papua justru terlampau banyak, jauh jauh lebih banyak daripada apa yang Jakarta pernah berikan kepada Tanah Papua?

Saya harap banyak orang seperti Pak Harun ini muncul dan bertindak menurut pemahaman itu, karena berkat Tuhan akan menghujani Indonesia kalau bangsa dan tanah air yang dikeruk kekayaannya dan diabaikan akan turut mendoakan Jakarta. Saat ini saya tidak pernah dengar orang mendoakan Jakarta dari hatinya di Tanah Papua.

Yang saya tahu, saat mereka berdoa di dalam rumah dan kamar masing-masing, mereka selalu mengeluh dan menangis kepada Tuhan kalau berdoa tentang Jakarta, dan mereka malah marah dan bahkan meminta Tuhan menghadirkan keadilan di Bumi ini.

Kalau ada banyak seperti Pak Harun ini, saya yakin Indonesia kana diberkati. Namun sayang, samapi hari ini, masih banyak merasa Jakarta berbaik hati kepada Papua, padahal faktanya justru Papua yang berbaik hati terhadap Jakarta.

Comments

comments

Add Comment