Yang Terjadi dalam breathwork adalah sebuah “Ceremony” (2)

Yang terjadi dalam breathwork sebagai sebuah “upacara” sudah saya ulas dalam dua tulisan sebelumnya, dan kini saya mau lanjut ke catatan ketiga. Dalam dua artikel sebelumnya saya ulas tentang proses “Eye-Gazing” dan penjelasan keseluruhan kegiatan yang akan terjadi, yang dalam teori disebut “background”, memberikan latar-belakang kegiatan upacara.

Dalam tulisan lainnya dalam beberapa bulan lalu, berdasarkan pengalaman pertama saya dengan breathwork, saya sudah tulis beberapa artikel tentang breathwok di blog ini ataupun di blog lain seperti UHTS Indonesia dan UHTS Melanesia.

Artikel ketiga ini saya mau sebutkan satu lagi kegiatan dari 10 kegiatan yang terjadi sebelum “perjalanan” (journey) dalam upacara breathwok tarjadi, yaitu “Intention Setting”, di mana kita menentukan tujuan akhir atau tujuan perantara yang kita mau raih dalam perjalanan kita secara khusus dalam upacara ini.

Dalam penerapannya seseorang akan mengatakan apa yang dia mau capai, namanya apa, gerakannya seperti apa dan bunyinya seperti apa, lalu gerakan dan bunyi dimaksud ditirukan oleh keseluruhan peserta upacara yang ada. Misalnya saya katakan seperti ini, “Di akhir perjalanan ini, saya mau temukan percikan rasa aman dan damai, dan rasa aman dan damai itu gerakannya dan bunyinya seperti ini, lalu saya buat gerakan serta membunyikan suara”, setelah itu ditiru/ dipantulkan oleh semua peserta lainnya.

Proses “intention setting” ini tidak hanya berlaku untuk perjalanan dalam breathwork saja, tetapi kita disarankan untuk belajar menentukan “tujuan” kita. MIsalnya tujuan sepanjang hari, tujuan sepanjang minggu, bulan, tahun, tujuan sepanjang kursus, tujuan sepanjang penerbangan, dan sebagainya. Kita diajarkan untuk menentukan “niat yang hendak kita capai dalam kurun waktu dan tempat tertentu.”

Kita sering merasa hidup ini tidak ada gunanya, hidup ini percuma hadir di muka Bumi, atau kita sering bingung apa yang harus kita lakukan di tempat dan waktu tertentu. Untuk menanggapi kondisi seperti ini, maka kita diberikan kesempatan untuk belajar menentukan niat dan tujuan kita berada di suatu waktu, di suatu tempat, dengan hasil yang bisa dicapai.

Contoh dalam breathwork saya katakan lewat perjalanan breathwork kali ini saya mau melepaskan rasa marah dan benci kepada orang Papua, dan sebeliknya mulai menanamkan rasa kemanusiaan kepada orang Papua.

Setelah “Intention setting”, mirip dengan itu akan ada “doa” dalam prosesi perjalanan (journey), di mana tujuan kita diteguhkan dengan para pihak yang kita anggap bisa membantu kita mewujudkan tujuan perjalanan kita.

Kita bisa berdoa, kita bisa meng-invokasi, kita bisa membaca mantera atau doa-doa, kita bisa menyanyi, apa saja yang kita anggap sebagai cara untuk mendoakan “intention” yang telah kita tetapkan.

(Akan berlanjut ke catatan 4)

Comments

comments

Add Comment