Musuh Taiwan Saat Ini: Biji Pinang

Betel Nut atau biji pinang
Betel nut atau biji pinang (Foto: Sam YEH / AFP)

Musuh pemerintah Taiwan saat ini bentuknya kecil, bulat, hijau, namun sangat berbahaya bagi masyarakat: biji pinang. Mengunyah pinang memang tradisi turun menurun di Taiwan, tapi harus segera dihentikan karena sangat berisiko memicu kanker mulut.

Diberitakan AFP yang mengutip data pemerintah Taiwan, Senin (9/10), setiap hari ada dua juta orang di Taiwan yang mengunyah biji pinang atau betel nut. Biji ini dijual bebas, terkadang di kios-kios pinggir jalan oleh para wanita cantik berpakaian mini, persis penjual mobil.

Biasanya biji pinang dikunyah dengan cara dibalut daun pinang dan ditaburi kapur sirih.
Konon mengunyah pinang bisa menguatkan gigi dan mulut, mengatasi mulut kering, dan meningkatkan vitalitas. Kebanyakan yang mengunyah pinang adalah para supir agar kuat bekerja lama.

Namun pada 2003, studi menunjukkan bahwa pinang memiliki zat karsinogen yang memicu kanker. Bahkan menurut Kementerian Kesehatan Taiwan, karsinogen pada pinang berisiko memicu kanker mulut 28 kali lebih cepat.

Upaya pemerintah Taiwan melalui kampanye belum membuahkan hasil. Pasalnya, mengunyah pinang telah ribuan tahun jadi tradisi di negara itu.
Akhirnya pemerintah Taiwan mencoba memberantas dari akarnya, yaitu menghilangkan pohon-pohon pinang.
Pemerintah Taiwan memberikan subsidi hingga 250 ribu Taiwan dolar atau lebih dari Rp100 juta bagi para petani yang ingin mengganti lahan pinang mereka dengan tanaman lain.

Tidak semudah yang dibayangkan

Tradisi Makan Pinang (Beetle Nut)
Tradisi Makan Pinang (Beetle Nut)

Menurut seorang petani pinang, Huang Sheng Yi, mengganti tanaman tidak semudah yang dibayangkan. Dia menerima subsidi pemerintah dan mulai membudidayakan pohon kamelia untuk dibuat minyak kamelia di kota Lugu, Nantou. Namun butuh dua tahun untuk panen, tidak seperti pinang.

“Petani enggan karena menanam tanaman baru sangat sulit. Perlu bimbingan dan insentif yang lebih besar untuk membuat perubahan,” kata Huang.
Sejak zaman dulu, pinang di Taiwan disebut sebagai “emas hijau” karena harganya yang termahal kedua setelah beras. Banyak orang di Taiwan yang menggantungkan hidup dari berjualan biji pinang.

Dari 42.940 hektar lahan pinang, hanya 435 hektar di antaranya yang telah berganti jenis tanaman. Menurut Su Mao Hsiang, wakil direktur badan pertanian dan pangan Taiwan, jumlah petani pinang yang mengajukan diri mengganti hasil tani mereka mulai berdatangan, tapi jumlahnya tidak signifikan.

Kesadaran masyarakat Taiwan akan bahaya biji pinang juga rendah. Chuang Li Chen, manajer di NGO kanker, Sunshine Social Welfare Foundation, mengatakan hanya setengah dari populasi Taiwan yang menyadari bahaya mengunyah pinang.
Menurut Chuang, masyarakat abai karena bahaya pinang baru dirasakan setelah 10 hingga 20 tahun.
Seperti Chen Yung An, mantan pecandu biji pinang yang pipinya bolong karena pengangkatan tumor akibat kanker tiga tahun lalu. Dia tidak tahu bahaya pinang setelah puluhan tahun mengonsumsinya.

“Di pedesaan biji pinang seperti buah. Kami tidak tahu itu berbahaya,” kata Chen kepada AFP.
“Tidak nyaman jika mulut saya tidak bergerak. Ketika berkendara saya beli pinang 200 Taiwan dolar (Rp88 ribu) untuk dimakan di mobil. Mulut saya baru beristirahat ketika tidur,” kata dia lagi.

Comments

comments

Add Comment