Breathwork dan Trauma Saat Kelahiran di Tumah Bersalin (Rumah Sakit)

Bali Spirit Festival 2018
Bali Spirit Festival 2018

Tadi malam saya terkejut dan merasa heran ada fakta baru yang saya baru tahu, “yaitu hubungan trauma saat kelahiran dan breathwork”. Pendiri Breathwork Stanislav Grof dan  Leonard Orr mengembangkan apa yang dikenal dalam breathwork sebagai “Rebirthing-Breathwork” yaitu sebuah proses pemutusan hubungan dengan trauma dan penderitaan waktu kelahiran di rumah sakit danproses lahir kembali secara alamiah. Proses lahir secara alamiah di sini maksudnya proses kelahiran yang sama seperti proses kelahiran di kampung-kampung, tanpa rumah sakit, tanpa alat-alat seperti gunting, sampai operasi sesar, tanpa pemberian obat penenang kepada ibu, tanpa dipaksa dengan pil-pil.

Saya secara pribadi, dari pengalaman anak-anak sendiri dan anak-anak sesama, sekampung, sesuku bisa menunjukkan dengan jelas perbedaan perilaku dan interaksi anak-anak antara yang lahir di rumah sakit dengan yang lahir di rumah sendiri.

Pada saat seseorang dilahirkan di rumah sakit, perlakuan para perawat dan dokter yang melayani “tidak didasarkan dengan kasih-sayang”. Ini hal pertama yang sangat mengganggu nurani saya saat saya mendengarkannya. Para perawat dan dokter bukan melayani dengan kasih-sayang, mereka bekerja sebagai pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka. Mereka ada di rumah sakit dan bekerja sebagai pegawai. Dengan demikian, anak yang lahir ke bumi, pertama-tama disambut oleh orang-orang yang tidak punya kasih sayang kepadanya. Sampai saat saya sudah dewasa-pun, bertemu dengan orang yang tidak punya kasih-sayang tidak begitu mudah buat saya. Nah, bagaimana dengan anak yang pertama-tama keluar dari perut ibu dan disambut oleh orang yang tidak punya kasih-sayang? Kedatangan kita ke bumi ini sangat menakutkan, disambut oleh orang yang tidak punya kasih-sayang menambah keadaan menjadi lebih menakutkan.

Selain tidak punya kasih-sayang, kebanyakan kelahiran di rumah sakit diselingi dengna pemotongan plasenta dengan gunting. Coba Anda ingat, saat Anda baru saja lahir, plasenta dan/atau tali pusar Anda, yang adalah jalur pernafasan utama sesaat kita ada dalam kandungan ibu, dipoting betigu saja oleh orang yang tidak berperasaan. Saat saya mendengarnya, secara langsung saya bilang “Ini pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), dan karena itu semua orang yang dilahirkan di Rumah Sakit yang dipotong seperti itu harusnya memprotes dan tuntut bayar kepada rumah-rumah sakit yang melakukan itu. “Masa’ memotong salah satu bagian tubuh manusia bayi yang tidak berdosa sama-sekali dianggap normal?”

Saya diberitahu bahwa proses kelahiran dan sambutan dan perbuatan seperti ini menjadi titik-titik hitam yang mengerikan dan menyakitkan dalam hidup seorang bayi sejak ia dilahirkan. Luka dan sakit dan rasa tidak diterima itu tanpa disadari ada dan melakat dan bertumbuh di dalam tubuh biologis dan psikologis sang bayi, dan sampai menjadi dewasa, hal ini tidak pernah disembuhkan. Bahkan sampai hampir semua masyarakat manusia yang dilahirkan di rumah sakit modern mati dengan mmabawa penyakit ini bersama mereka.

Dalam sejarah Breathwork disebutkan dalam Wikipedia sebagai berikut

Rebirthing-Breathwork – was devised by Leonard Orr in the 1970s. It is claimed to be capable of releasing suppressed traumatic childhood memories [https://en.wikipedia.org/wiki/Breathwork]

Jadi, ada hubungan langsung antara trauma saat kelahiran di rumah sakit dan breathwork. Banyak pengalaman yang saya dengar mereka katakan saat terjadi breathwork mereka kembali kepada memori “tidak ada kasih-sayang” dan merasa diri ditolak, disakiti saat ada terjadi pemotongan bagian penting dari tubuh seorang bayi, dan perlakuan lain yang menyakitkan yang dialami begitu detik pertama mereka hadir ke planet Bumi ini.

Saya harap orang-orang yang membaca artikel ini mulai berpikir untuk mengurus kelahiran anak-anak mereka TIDAK DI RUMAH SAKIT!

[bersambung]

 

Comments

comments

One thought on “Breathwork dan Trauma Saat Kelahiran di Tumah Bersalin (Rumah Sakit)

  1. Pingback: “Fear Factor”: Mentalitas Budak, Pertanda Orang Tidak Tahu Diri

Add Comment