Botol Minyak Tawy 200 ML Sebenarnya Sudah Peringatkan Saya 3 Kali

Pada saat saya tulis tentang pengalaman kehihlangan koper termahal saya dalam perjalanan dari Denpasar Bali ke Port Vila Vanuatu, saya teringat sebenarnya ada peringatan langsung dari “roh”, “moyang”, Tuhan atau apa yang dapat Anda sebut. Saya katakan ini sebagai peringatan dari Ibunda Almarhumah, yang peringatkan saya.

Pada saat saya berangkat dari Jayapura sudah kentara kepada saya bahwa sebenarnya saya tidak boleh bawa minyak buah merah ini. Saya paksakan diri membawanya karena tujuan saya bukan untuk jaualan, tetapi tujuan utama untuk makan dengan sayuran atau makanan asli yang ada di Vanuatu. Ini tujuan di luar tujuan bisnis saya. Oleh karena itu seharusnya begitu saya mendapatkan peringatan, saya sudah harus meninggalkannya di Jayapura.

Peringatan pertama saya dapatkan pada saat saya mau bawa Mnyak Tawy, saya sebenarnya sudah lupa, dan sudah datang ke Airportt, sudah menimbang barang, tetapi saya mengambilnya kembali setelah mengetahui saya maisih punya waktu lama untuk bisa kembali mengambilnya. Dari Minimarket PAPuAmart.com Sentani, Hawai ke Airport biasa ditempuh dalam waktu kurang dari 10 menit. Oleh karena itu saya paksakan mengambilnya.

Peringgatann kedua saya alami pada saat di Bandara Hassanuddin, Makassar. Waktu itu tiba-tiba celana yang saya kenakann bagian depan menjadi merah. walaupun minyak Tawy yang saya bawa ada di dalam tas bawaan saya, warna merah tercat di celana bagian depan. Tempat bagian depan tidak mungkin ada buah merah lewat di situ. Kecualli di bagian belakang, karena saya tenteng tas tangan ddi belakang saya.

Kejaian ini sebenarnya sudah membuat saya bertanya-tanya, “Ah, saya sudah lupakan minyak Tawy di toko, lalu kedua warna merah ini kok tercat di celana bagian depan, bukan did bagian belakang?”

Dua hari saya harus tunggu pesawat di Denpasar Bali. Karena itu saya mintakan celana yang ter-cat Minyak Tawy di-Laundry kilat. Dan mereka melakukannya. Sementara celana saya di-laundry, saya menggantikan celana pendek saya. Dan pada hari ini saya tidak jalan-jalan kemana-mana. Tetapi pada malam hari saya ketahuan bahwa di bagian depan celana saya-pun sudah tercat warna merah.

Ini sudah terlalu banyak peringantan. Tetapi nyali saya masih tertutup karena “nafsu” saya untuk membawanya. Saya seharusnya sudah harus tahu sudah ke sekian kali peringatan ini sudah jelas bermaksud saya tinggalkan saja minyak tawy ini entah di hotel atau memberikannya saja kepada orang yang membutuhkan di Bali.

ikan dan Yam di Port Vila, Vanuatu
ikan dan Yam di Port Vila, Vanuatu

Tetapii saya maish tetap mau wujudkan ambisi saya, memamerkan minyak Tawy di Port Vila, Vanuatu. Yang saya maksudkan ialah makan  makanan asli Vanuatu seperti daalam gambar ini dicampur dengan MInyak Tawy, sama persis seperti yang biasa saya lakukan pada saat saya ada di Tanah Papua, atau pada saat saya punya Minyak Tawy.

Ternyata peringatan-peringatan yang sudah jelas-jelas saya terima dikalahkan oleh ambisi, atau lebih tepat saya sebut nafsu saya untuk “pamer-pamer”, bukan untuk jualan di Port Vila tidak jadi. Yang menjadi pelajaran dari kisah ini buat saya ialah:

  1. Pertama, alam dan moyang, mereka yang telah berpulang selalu ada memberikan peringatan-peringatan kepada kita, oleh karena itu, eentah apapun yang tejadi, pelajarilah dan tanyakan “apa maksudnya?”
  2. Kedua, ambisi boleh adaa, tetapi jangan sampai dia menjadi nafsu, karena pada saat ambisi menjadi nafsu, peringatan apapupn yang datang,, dari Tuhan, dari guru, dari agama, apalagi dari yang sudah meninggal dunia akan menjadi sia-siia. Ambisi harus dibungkus secara baik sehingga dia tidak menjadi nafsu yang membabi-buta, yang mengorbankan banyak pihak, dan juga mengorbankan diri sendiri.
  3. Tentu saja, saya akan lebih berhati-hati terhadap peringatan alam.

 

Comments

comments

Add Comment