Kisah Perjalanan “Last Route Flight” Air New Guinea dari Denpasar – Port Moresby

Air New Guinea, Air Nugini, Papua New Guinea
Air New Guinea, Air Nugini, Papua New Guinea

Seperti saya ceritakan lewat Moblie Blogging di saat saya sedang menunggu proses “boarding” di Bandara Ngurai Rai International Airport, Denpasar, Bali “Ketemu Pak Agus Terima Berita Duka Di Ngurah Rai Denpasar Bali” cerita tentang penerbangan terakhir ini disampaikan oleh Pak Agus, yang baru saya kenalan di Bandara, saat sedang menunggu boarding. Saya anggap ini sebuah “berita duka” sebab ini baru pertama kali dalam hidup saya terbang dalam sebuah rute penerbangan terakhir, sebelum rute itu ditutup. Kedua, karena saat Pak Agus bicara, saya juga merasakan beliau seikit tidak setuju dengan penutupan rute ini.

Begitu semua penumpang dimuat, sang captain menyampaikan beberapa hal. Saat dia bicara, saya sudah tahu dia seorang captain dari Gunung Papua New Guinea, entah Wabag, Hagen, Tari, Southern Highlands atau Western Highlands atau Eastern Highlands, Chimbu atau Goroka. Jadi, memang banyak tempat di PNG. Saya dengar logatnya dia memang orang Mount Hagen.

Sang captain katakan pertama-tama minta maaf atas keterlambatan penerbangan. Kami seharusnya berangkat tadi malam pukul 22.10, tetapi kini kami mau berangkat hari berikutnya, pada pukul 10.00 pagi. Jadi, penundaan terjadi selama 12 jam. Alasan tidak disampaikan, tetapi sang captain dengan logat santai orang Gunung New Guinea mengatakan walaupun terjadi penundaan, penerbangan tetap dilakukan,

Beliau tidak sadar, bahwa sebenarnya para penumpang yagn harus melakukan penerbangan lanjutan dari POM (Port Moresby) ke negara-negarea lain, terutama ke Solomon Islands, Fiji, Vanuatu, Samoa dan lain sebagainya di Pasifik Selantan, atau juga harus terbang secara domestik di PNG juga dirugikan, karena pesawat mereka sudah terbang sehari sebelumnya, atau hari yang sama tetapi sebelum kami tiba di Jacksons International Airport POM.

Selain dari minta maaf atas keterlambatan penerbangan, seperti biasanya memang semua captain meminta maaf atas keterlamabatan, kemudian sang captain melanjutkan bahwa penerbangan ini “last flight on Deppasar – POM route”, maka dengan demikian saya menjadi tambah yakin, karena memamg saya sudah yakin dari tadi saat diberitahui Pak Agus.

Saya pikir ini sebuah kisah dan peristiwa ataukah sebuah catatan sejarah? Karena dalam blog ini saya punya dua kategori ini secara terpisah, ada kategori “Kisah & Peristiwa” dan ada juga kategori “Catatan & Sejarah”. Lalu saya putuskan, tidak ini sebuah catatan sejarah, karena Air New Guinea dalam sejarahnya pernah terbang langsung dari Denpasar ke POM, tetapi sejarah itu tercatat kembali bahwa tanggal 25 September 2018 adalah hari terakhir penerbangan DPS – POM dilakukan, dan itu sejarah yang sedang dicatat.

Hal yang lebih penting lagi buat saya, “Saya menjadi bagian dari catatan sejarah itu!” Puji nama Tuhan! Walaupun tadi malam saya agak gelisah mengapa penerbangan ini tertunda 12 jam. Saya memang tidak terlalu pusing, tetapi hanya bertanya-tanya di dalam hati.

Saya harus terima realitas kehidupan: ada awal – ada akhir, ada mulai – ada selesai, ada lahir-  ada mati, ada siang – ada malam, ini semuanya hukum alam, yaitu hukum pasti. Itu sebabnya orang belajar Ilmu Alam di sekolah disebut Ilmu Pasti, di mana hukum-hukumnya tidak berubah oleh apa-apa yang manusia inginkan, rasakan, atau lakukan.

Comments

comments

Add Comment