Kisah Wamena dan Nama yang Salah Kapra

Afif Farhan, detikTravel

Masyarakat Wamena masih mempertahankan tradisinya (Sastri/detikTravel)

Wamena – Nama suatu daerah di Indonesia biasanya memiliki arti. Termasuk Wamena di Papua, yang arti nama sebenarnya merupakan salah kaprah.

Selalu menarik untuk membahas Papua, baik dari segi kekayaan alam, keberagaman budaya dan adat istiadatnya. Kawasan paling timur Indonesia ini menyimpan banyak cerita yang menarik untuk disimak.

Salah satunya Wamena, suatu wilayah di Kabupaten Jayawijaya yang berada di Lembah Baliem, Pegunungan Tengah (masuk dalam rangkaian Pegunungan Jayawijaya). Wamena menyimpan banyak pesona.

Wamena terkenal dengan Festival Lembah Baliem, suatu festival yang menampilkan macam budaya suku Dani. Ada Tari Perang, Bakar Batu, dan lainnya

Wamena pun punya mumi Papua. Mumi-mumi di sana menyimpan sejarah panjang, berusia ratusan tahun dan sebagai simbol tradisi.

Tapi tunggu, sebenarnya apakah arti nama Wamena sendiri?

detikcom mewawancarai Hari Suroto, seorang peneliti dari Balai Arkeologi Papua. Dari tahun 2008 bertugas di Papua, dia sudah malang melintang ke berbagai wilayah Papua untuk meneliti berbagai hal soal sejarah dan kebudayaan.

“Dulunya nama Wamena adalah Ahgamua. Ahgamua merupakan lembah yang sangat luas, subur dan indah serta dialiri Sungai Baliem,” terang Hari kepada detikcom, Minggu (29/9/2019).

Hari kemudian bercertia, pada tahun 1960-an, sekelompok gadis di Ahgamua hendak mandi di Sungai Baliem. Tiba-tiba muncul seorang misionaris Belanda di pinggir sungai. Gadis-gadis itu pun sangat terkejut. ‘Eye…., eye…, eye… Ap molah! Aph molah!’ Teriak gadis-gadis itu.

“Ap molah adalah sebutan mereka untuk orang berkulit putih,” kata Hari.

Mereka merasa takut dan pergi menjauh. Hanya satu orang gadis yang tidak takut pada Ap molah. Kemudian, gadis itu bersalaman dengannya.

“Ap molah bertanya, ‘hoe het dit plek’ (apa nama tempat ini). Tepat saat Ap molah menanyakan nama tempat itu, muncullah seekor anak babi melintas di pinggir sungai. ‘Wamena!’ kata gadis itu,” papar Hari.

“Wamena artinya anak babi peliharaan. Berasal dari kata ‘wam’ yang berarti babi dan ‘ena’ berarti anak peliharaan,” sambung Hari menjelaskan.

Tentu, saat itu gadis tersebut tidak mengerti apa yang Ap molah katakan. Ketika ditanya, dia pun tidak mengerti maksudnya dan sedang melihat anak babi di pinggir sungai. Jadilah yang keluar dari mulutnya, kata ‘Wamena’.

“Setelah itu, banyak orang Belanda datang ke sana. Mereka pun menyebutnya dengan nama Wamena bukan Ahgamua, sebab salah mengerti perkataan gadis. Hingga kini, Ahgamua dikenal dengan nama Wamena,” tutup Hari.

(aff/aff)

 

Comments

comments

Add Comment